Peri Ikan
Cerita Anak dan inspirasi
Ketika nelayan itu meninggal dan waktu terus berlalu hingga anaknya
beranjak dewasa dan mulai berpikir untuk mendapatkan pekerjaan. Dia
telah mencoba banyak hal, tetapi dia tidak pernah berhasil. Setelah
ibunya juga meninggal, anak itu akhirnya menjadi sendirian dan hidup
dalam kemiskinan, tanpa makanan dan uang. Suatu hari dia masuk ke gudang
rumahnya, berharap bahwa dia akan menemukan sesuatu untuk dijual.
Dalam pencariannya, dia menemukan jala ayahnya. Dengan melihat jala
ini, dia akhirnya sadar bahwa semasa muda, ayahnya adalah seorang
nelayan. Lalu dia mengambil jala itu keluar dan pergi ke laut untuk
menangkap ikan. Karena kurang terlatih, dia hanya dapat menangkap dua
buah ikan, dimana yang satu dijualnya untuk membeli roti dan kayu bakar.
Ikan yang satunya lagi dimasak dengan kayu bakar yang dibelinya tadi,
dan dimakannya, saat itu dia memutuskan untuk menjadi nelayan.
Suatu hari dia menangkap seekor ikan yang sangat cantik sehingga dia
tidak rela untuk menjual atau memakannya sendiri. Dia lalu membawanya
pulang ke rumah, menggali sebuah sumur kecil, dan menempatkan ikan
tersebut disana. Kemudian dia lalu tidur karena kelelahan dan kelaparan
dan berharap bahwa keesokan harinya dia dapat bangun lebih pagi dan
menangkap ikan yang lebih banyak.
Keesokan hari, saat pergi menangkap ikan dan pulang di malam hari,
dia mendapati rumahnya menjadi sangat bersih dan telah di sapu selama
dia tidak berada di sana. Dia menyangka bahwa tetangganya datang dan
membersihkan rumahnya, dan atas kebaikan tetangganya membersihkan
rumahnya, dia berdoa agar tetangganya tersebut mendapat berkah dari
Tuhan.
Keesokan harinya, dia bangun seperti biasa, dengan gembira dia
menengok ikannya yang ada di sumur kecil dan pergi untuk bekerja lagi.
Pada saat pulang di malam hari, dia kembali menemukan bahwa rumahnya
menjadi bersih dan rapih. Kemudian dia menghibur dirinya sendiri dengan
memandangi ikannya, lalu pergi ke kedai dimana disana dia berpikir,
siapa kira-kira yang telah merapihkan rumahnya. Saat sedang berpikir,
salah seorang temannya bertanya, apa yang dipikirkannya. Dan anak
nelayan tersebut menceritakan semua kisahnya. Akhirnya temannya berkata
bahwa dia harus mengunci rumahnya sebelum berangkat dan membawa
kuncinya, hingga tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam.
Anak nelayan dan Peri IkanAnak nelayan tersebut akhrnya pulang ke
rumah, dan keesokan harinya, dia pura-pura akan keluar bekerja. Dia
membuka pintu dan menutupnya kembali, kemudian dia bersembunyi di dalam
rumah. Saat itu juga dia melihat ikannya meloncat keluar dari sumur dan
menggoyangkan dirinya, berubah menjadi besar dan akhirnya kulit ikan
menjadi terkelupas dan anak nelayan tersebut melihat seorang wanita yang
sangat cantik jelita. Dengan cepat anak nelayan itu mengambil kulit
ikan yang terkelupas tadi dan membuangnya ke dalam perapian.
"Kamu seharusnya tidak melakukan hal itu," kata wanita itu, "Tapi apa
boleh buat, yang terjadi biarlah terjadi dan tidak usah dipermasalahkan
lagi."
Setelah terbebas, wanita tersebut dilamar oleh si anak nelayan dan
wanita tersebut menyetujui lamarannya, segala persediaan telah di buat
untuk pernikahan mereka. Semua yang melihat wanita itu menjadi kagum dan
terpana oleh kecantikannya dan mereka berbisik-bisik bahwa wanita
tersebut lebih pantas menjadi pengantin seorang Padishah (Sultan). Kabar
ini dengan cepat menyebar ke telinga Padishah, lalu Padishah
memerintahkan agar wanita tersebut di bawa ke hadapannya. Saat Padishah
melihat wanita yang sangat cantik jelita itu, dia langsung jatuh cinta,
dan bertujuan untuk menikahinya.
Karena itu dia menemui anak nelayan tersebut dan berkata "Jika dalam
empat-puluh hari kamu bisa membangunkan saya istana dari emas dan
permata di tengah-tengah lautan, saya tidak akan mengambil wanita yang
akan kamu nikahi itu, tetapi apabila kamu gaga, saya akan mengambilnya
dan membawanya pergi." Lalu anak nelayan itu pulang ke rumah dengan hati
sedih dan menangis. "Mengapa kamu menangis?" tanya wanita yang
merupakan peri ikan itu. Anak nelayan tersebut lalu menceritakan apa
yang diperintahkan oleh Padishah, tetapi wanita itu berkata dengan
gembira: "Jangan menangis, kita bisa menyelesaikannya. Pergilah ke
tempat dimana kamu pernah menangkap saya semasa menjadi ikan dan
lemparkan sebuah batu ke tempat itu. Sesosok jin akan muncul dan
mengucapkan kata 'apa perintahmu?' Katakan bahwa seorang wanita
mengirimkan salam untuknya dan meminta sebuah bantal. Dia akan
memberikannya dan lemparkan bantal tersebut ke laut dimana Padishah
menginginkan istananya di bangun. Kemudian kembalilah ke rumah."
Anak nelayan tersebut mengikuti semua petunjuk, dan pada hari
berikutnya, ketika dia melihat ke depan dimana bantal tersebut
dilemparkan dilaut, dia melihat sebuah istana yang lebih indah dari apa
yang Padishah gambarkan dan minta. Dengan gembira mereka cepat-cepat
menyampaikan ke istana bahwa tempat tersebut telah di bangun.
Padishah menjadi terkejut, tetapi karena tujuan Padishah sendiri
bukanlah istana itu melainkan untuk memisahkan anak nelayan dengan
wanita yang diidam-idamkannya, Padishah atau Sultan tersebut memberi
perintah pada anak nelayan itu untuk membuatkan jembatan dari Kristal
menuju ke istananya. Selanjutnya anak nelayan itu pulang dan menangis
sedih kembali. Saat wanita yang sebenarnya adalah Peri Ikan tersebut
melihatnya bersedih dan mendengarkan keluhan dari anak nelayan tersebut,
dia berkata: "Pergilah ke tempat sesosok jin seperti sebelumnya, dan
mintalah padanya sebuah bantal guling, Ketika kamu sudah mendapatkannya,
buanglah ke tempat dimana istana itu berada." Kemudian anak nelayan
tersebut melakukan apa yang disuruhkan oleh calon istrinya dan begitu
berbalik, dia melihat sebuah jembatan yang indah dari kristal. Dia
kemudian menemui Padishah dan memberitahu bahwa tugasnya telah selesai.
Anak nelayan membalikkan penggilingan kopiPadishah merasa tidak puas
kemudian memerintahkan anak nelayan itu menyiapkan perjamuan yang besar
hingga seluruh penduduk dapat makan disana dan harus masih ada makanan
yang tersisa. Seperti sebelumnya, anak nelayan itu pulang dan
menceritakan hal itu kepada calon istrinya. Mendengar perintah dari
Padishah kepada anak nelayan tersebut, dia berkata "Pergilah kembali ke
tempat sesosok jin tadi, dan mintalah penggilingan kopi dari dia, tetapi
hati-hatilah agar jangan sampai menumpahkannya dalam perjalanan." Anak
nelayan itu kemudian berhasil mengambil penggilingan kopi dari jin tanpa
mengalami kesulitan. Tetapi saat membawanya pulang, dengan ceroboh dia
menumpahkannya, hingga tujuh dari delapan piring terjatuh keluar dari
penggilingan kopi. Dia lalu memungutnya dan membawanya pulang.
Pada hari yang telah ditentukan, semua penduduk yang harus datang
menurut undangan dari Padishah, menuju ke rumah anak nelayan tersebut
dan mengambil bagian dalam perjamuan besar tersebut. Walaupun semua tamu
dapat makan sekenyang-kenyangnya, masih juga banyak makanan yang
tersisa. Anak nelayan tersebut berhasil memenuhi tugasnya kembali.
Karena keras kepala, Padishah memerintahkan kembali anak nelayan itu
untuk menghasilkan seekor keledai dari sebuah telur. Anak nelayan
tersebut memberi tahu wanita calon istrinya itu, apa saja yang
diperintahkan oleh Padishah, dan wanita tersebut memberi tahu dia bahwa
dia harus memberikan tiga telur ke sosok Jin di tengah laut kemudian
membawanya pulang kembali tanpa memecahkannya. Anak Nelayan kemudian
melakukan apa yang disuruhkan oleh wanita itu, tetapi di tengah jalan
pulang, dia menjatuhkan satu biji telur dan memecahkannya. Dari telur
tersebut, meloncatlah keluar seekor keledai besar, yang akhirnya lari
dan menceburkan dirinya ke laut sampai tidak kelihatan lagi.
Anak nelayan tersebut tiba di rumah dengan aman dan membawa dua buah
telur yang tersisa. "Mana yang ketiga?" tanya wanita itu kepadanya.
"Pecah di perjalanan," katanya. "Kamu seharusnya lebih berhati-hati,"
kata wanita itu, "tapi apa yang telah terjadi, biarlah terjadi."
Anak nelayan dan keledaiKemudian anak nelayan membawa telur-telur itu
ke Padishah, dan meminta agar dia diijinkan naik ke atas sebuah bangku
untuk melemparkan telur tersebut di lantai. Padishah mengijinkannya dan
anak nelayan tersebut lalu berdiri diatas bangku dan melemparkan telur
ke lantai. Saat itu seekor keledai yang besar meloncat keluar dari telur
yang pecah dan jatuh ke atas Padishah yang langsung mencoba menghindar
untuk menyelamatkan diri. Anak nelayan itu kemudian menyelamatkan
Padishah dari bahaya, dan keledai yang tadi lalu berlari keluar dan
menceburkan dirinya ke dalam laut.
Dengan rasa putus asa, Padishah atau sultan tadi mencari-cari hal
yang mustahil dan yang tidak mungkin dapat di kerjakan oleh anak
nelayan. Dia lalu meminta agar anak nelayan tersebut membawakan dia anak
bayi yang umurnya sehari tetapi sudah dapat berbicara dan berjalan.
Wanita calon istri anak nelayan kemudian menyuruh anak nelayan
tersebut ke sesosok jin di tengah laut dan membawakan hadiah-hadiah dari
wanita itu, dan memberitahunya bahwa dia berharap dapat melihat
kemenakannya yang masih bayi. Anak nelayan itu kemudian pergi ke tengah
laut dan memanggil sosok jin itu dan menyampaikan pesannya. Sosok Jin
itu berkata, "Dia masih berumur beberapa jam, ibunya mungkin tidak mau
memberikannya, tapi, tunggulah sebentar, saya akan mencoba
menanyakannya."
Bayi dan PadishahSingkat kata, jin tersebut pergi dan segera muncul
kembali dengan bayi yang baru lahir ditangannya. Ketika anak nelayan
tersebut melihat anak bayi itu, anak bayi itu berlari ke pangkuannya dan
berkata "Kita akan ke bibi saya ya?" Anak nelayan mengiyakan dan
membawa anak bayi itu ke rumah, dan ketika bayi tersebut melihat wanita
itu, dia berteriak "Bibi!" dan memeluknya. Anak nelayan kemudian membawa
bayi itu ke hadapan Padishah.
Saat bayi tersebut dibawa ke hadapan Padishah, bayi tersebut naik ke
pangkuan Padishah dan memukul wajahnya, dan berkata: "Bagaimana mungkin
orang dapat membangun istana dari emas dan permata dalam empat-puluh
hari? membangun jembatan dari kristal juga dalam waktu yang sama?
Bagaimana satu orang bisa memberi makan seluruh penduduk yang ada di
kerajaan ini? Bagaimana mungkin keledai dapat dimunculkan dari sebuah
telur?" setiap kalimat yang meluncur dari mulut sang bayi diiringi
dengan tamparan keras ke wajah Padishah, hingga akhirnya Padishah
berkata kepada anak nelayan bahwa dia boleh menikahi wanita itu bila dia
dapat menjauhkan Padishah dari bayi yang menampari wajahnya terus
menerus. Anak nelayan tersebut pulang sambil menggendong bayi itu ke
rumah, kemudian menikahi wanita itu dan mengadakan pesta selama empat
puluh hari empat puluh malam.