Minggu, 04 September 2011

* Ditemukan, Fosil Dinosaurus Terbang 0

Ditemukan, Fosil Dinosaurus Terbang

Sempat diduga burung purba, Anchiornis huxleyi itu ternyata masuk keluarga dinosaurus


Gambar reka dinosaurus bersayap dari Universitas Bristol, Inggris (AP Photo / Hu Dongyu, Bristol University England)
 
Tim paleontologi dari China melaporkan penemuan sebuah fosil dinosaurus, yang diyakini telah berusia 150 juta tahun. Yang menarik, dinosaurus ini tampaknya memiliki empat sayap sehingga menimbulkan perspektif baru bagi kalangan ilmuwan mengenai evolusi hewan berbulu.

Laman harian USA Today mengungkapkan bahwa temuan itu dipublikasikan oleh jurnal Nature. Tim dari China itu dipimpin oleh Xing Xu dari Akademi Ilmu Pengetahuan di Beijing.

Mereka menamakan fosil itu Anchiornis huxleyi. Dinosaurus berbulu itu "menunjukkan bahwa struktur-struktur ini pertama kali berevolusi di bagian bawah perut depan dan ekor."

Awalnya, tim itu menduga fosil Anchiornis yang mereka temukan adalah burung purba. Namun, setelah penelitian fosil lebih lanjut, mereka menemukan struktur tulang yang menunjukkan bahwa spesies itu merupakan tipe dinosaurus.

Fosil itu tampaknya muncul lebih dulu dari Archaeopteryx, yang merupakan burung pertama.

* Nenek Moyang Manusia Diduga Ikan 0

Nenek Moyang Manusia Diduga Ikan

Terjadi peristiwa kepunahan massal hingga memutar ulang kehidupan di Bumi.


Fosil Ikan Purba (LiveScience/Jason Smith)
 
Hasil penelitian yang dipublikasikan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, 17 Mei 2010 lalu menguak fakta mengejutkan soal asal-usul manusia.

Studi terbaru menyebutkan manusia harus 'berterimakasih' pada nenek moyangnya, ikan prasejarah, yang membuka jalan evolusi manusia.

Dijelaskan, sekitar 360 juta tahun lalu, terjadi peristiwa kepunahan massal hingga memutar ulang kehidupan di Bumi. Peristiwa itu melontarkan vertebrata -- mahluk bertulang belakang-- dari air ke tanah, termasuk ikan-ikan purba. Spesies yang beruntung selamat dari tahapan ini menjadi pioner menuju tahapan evolusi vertebrata modern.

"Peristiwa itu berakibat pada semua mahluk hidup, kemusnahan terjadi secara global," kata pimpinan riset, Lauren Sallan dari Universitas Chicago, seperti dimuat laman Live Science, 20 Mei 2010.  

"Ini memutar ulang keanekaragaman hayati vertebrata di semua lingkungan tanpa kecuali, baik di air tawar maupun lautan --  menciptakan dunia yang sama sekali berbeda."

Kepunahan terjadi di masa-masa menuju berakhirnya Zaman Ikan, atau yang dikenal dengan Periode Devonian,  416 hingga 359 juta tahun lalu.

Ikan purba bercangkang yang disebut placoderma dan ikan bersirip cuping (lobe-finned fishes) dari jaman prasejarah -- yang mirip ikan lungfish modern -- mendominasi biota air.

Sementara, ikan yang siripnya bersinar (ray-finned fishes), hiu, dan tetrapoda, hewan vertebrata yang memiliki empat kaki, jadi minoritas.

Namun, di antara Periode Devonian yang diikuti Periode Carboniferous, placoderma punah, pupulasi ikan yang siripnya bersinar menggantikan dominasi  ikan bersirip cuping -- pergeseran demografik ini berlanjut hingga hari ini.  "Ada semacam insiden di akhir masa Devonian," kata anggota peneliti, Michaels Coates dari Universitas Chicago.

"Sesuatu terjadi yang nyaris menyapu bersih segalanya, dan yang selamat melewatinya menciptakan sesuatu yang spektakuler."

Para peneliti menganalisa fosil vertebrata yang menunjukan perubahan penting dalam keanekaragaman hayati terkait dengan kepunahan Hangenberg.

Hangenberg terjadi 15 juta tahun setelah kepunahan terjadi -- atau di akhir masa Devonian Kellwaser, yang dianggap satu dari lima kepunahan terbesar dalam sejarah Bumi. Ilmuwan menyimpulkan bahwa peristiwa itu bertanggung jawab melontarkan hewan-hewan laut ke tanah.

Sebelum masa punah, ikan seperti Tiktaalik dan mahluk tetrapoda purba seperti Ichthyostega membuat langkah pertama eksistensi mereka di darat.

Namun, setelah masa kepunahan itu, sebuat fosil panjang yang dikenal sebagai 'Romer's Gap' menyapu habis tetrapoda , sebuah teka teki yang memusingkan para palaeontogis selama bertahun-tahun.

Gap selama 15 juta tahun adalah periode 'mabuk' setelah peristiwa traumatik, Hangenberg. Ketika akhirnya tetrapoda yang pulih, mereka yang selamat diduga menjadi nenek moyang mayoritas mahluk vertebrata yang ada saat ini, termasuk manusia. (mt)

* Ditemukan, Fosil Penghubung Manusia dan Kera 0

Ditemukan, Fosil Penghubung Manusia dan Kera

Tim peneliti Universitas Michigan menemukan fosil berusia 29 juta tahun di Arab Saudi.


Fosil Saadanius hijazensis (Nature|BBC)
 
Para ilmuwan menemukan tengkorak binatang berusia 29 juta tahun yang diduga sebagai nenek moyang monyet purba dan bangsa kera, manusia.

Tim peneliti Universitas Michigan menemukan fosil ini di Arab Saudi. Seperti dimuat laman jurnal Nature, fosil primata tersebut diberi nama Saadanius hijazensis.

Menurut ketua tim peneliti, Dr William Sanders dari Universitas Michigan, temuan ini luar biasa.

Tengkorak yang sebelumnya tak diketahui spesiesnya ini punya beberapa fitur yang dimiliki monyet purba dan kera, juga manusia.

"Saadanius dekat dengan nenek moyang kita [manusia]," kata Sanders, seperti dimuat laman BBC.
"Jika kita mengetahui tentang periode waktu dan kondisi hidup mahluk ini, kita mungkin akan menemukan apa yang membuat evolusi kera dan manusia berbeda," tambah dia.

Dr Sanders menjelaskan, bahwa Saadanius bahkan mungkin telah menjadi nenek moyang bersama yang menghubungkan manusia dengan monyet purba.

"Tapi mungkin ada sederet makhluk di kala itu yang mirip dan salah satu dari mereka menjadi nenek moyang kita," tambah dia.

Sanders menambahkan, para peneliti harus lebih melakukan eksplorasi dan mengumpulkan banyak data, sebelum membuat klaim yang lebih besar.

Meski demikian, fosil yang ditemukan tetap mengindikasikan bahwa primata tersebut tampak sangat mirip dengan monyet modern, Capuchin. Namun, ukurannya sedikit lebih besar, seperti Siamang.

Dari fosil tersebut, diketahui bahwa primata tersebut masih menggunakan empat kaki untuk berjalan di pohon. Ketika sedang beristirahat, struktur tulang primata tersebut kemungkinan besar berbaring di pohon daripada duduk tegak di tanah.

Penemuan terbaru ini menunjukkan bahwa perbedaan evolusi kera dan monyet purba terjadi lebih cepat dari prediksi sebelumnya, 30-35 juta tahun.

Para peneliti membuat perkiraan baru yakni 29 juta tahun lalu. Ini lebih dekat dari perkiraan para ilmuwan, tapi tak mengejutkan bagi sudut pandang palaeantologi. (hs)

* Kerangka Manusia Megalitikum Ditemukan 0

Kerangka Manusia Megalitikum Ditemukan

"Diduga dia abdi tuannya yang setia dan dikubur di samping sarkofagus tuannya."


Situs penggalian hobit, Flores (Mikhail Tsyganov)
 
Kerangka manusia zaman megalitikum yang diperkirakan berusia 2.500 tahun lalu ditemukan di Desa Keramas, Blahbatu, Gianyar, Bali, dalam kondisi yang masih utuh.

Kerangka itu ditemukan saat tim peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar tengah melakukan penggalian Minggu 29 Agustus 2010 di samping sebuah sarkofagus berkepala patung manusia yang sebelumnya ditemukan lebih dulu pada 25 Agustus 2010.  Diduga kerangka itu adalah seorang seorang abdi yang selama hidupnya setia kepada tuannya.

"Kerangkanya masih lengkap dengan bekal kuburnya, berupa batung beliung dan guci kuno. Dari hasil penelitian kami, diduga dia abdi tuannya yang setia dan dikubur di samping sarkofagus tuannya," jelas Ayu Kusumawati, Koordinator Balai Arkeologi Denpasar saat dikonfirmasi, Minggu, 29 Agustus 2010.

Sejak tahun 1978, temuan sarkofagus di Gianyar sudah mencapai 37 buah, ditambah dua sarkofagus terbaru di kawasan galian bata merah, Desa Keramas, Blahbatu, Gianyar, Bali.

Sarkofagus lainnya yang ditemukan berada di sekitar tiga meter dari lokasi pertama, juga dipastikan berasal dari satu komunitas, namun ukuran dan bentuknya berbeda sesuai status sosialnya.

"Dipastikan dulu ini menjadi daerah padat pemukiman, karena juga banyak ditemukan pecahan periuk dan alat-alat sembahyang. Menurut literatur, daerah ini adalah kawasan pemukiman padat di awal peradaban Bali," ungkap Ayu.

* Manusia Pertama Berasal dari Israel? 0

Manusia Pertama Berasal dari Israel?

Menurut teori yang berkembang saat ini, nenek moyang manusia modern berasal dari Afrika.


Penemuan gigi manusia purba di Israel (AP)
 
Para arkeolog Israel mengklaim telah menemukan bukti awal eksistensi manusia modern. Jika ini benar, maka akan mengubah sejarah, juga teori soal asal-usul manusia.

Tim dari Universitas Tel Aviv yang menggali sebuah gua di Israel tengah, mengaku telah menemukan gigi manusia berusia 400.000 tahun -- cocok dengan sisa-sisa Homo sapiens lain yang ditemukan di Israel.
"Sangat menarik untuk sampai di kesimpulan ini," kata arkeolog Avi Gopher, yang timnya meneliti gigi-gigi purba itu menggunakan sinar-X dan CT Scan.

Namun, tambah dia, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperkuat klaim, tersebut. Jika memang terbukti, "ini akan mengubah gambaran evolusi."

Saat ini, teori ilmiah yang diterima adalah bahwa Homo sapiens berasal dari Afrika dan bermigrasi ke luar dari benua hitam itu. Gopher mengatakan, jika fosil tersebut terkait dengan nenek moyang manusia modern, bisa berarti bahwa manusia modern sebenarnya berasal dari wilayah yang sekarang disebut Israel.

Gua prasejarah Qesem ditemukan pada tahun 2000, dan penggalian dimulai tahun 2004. Peneliti Israel, Gopher, Ran Barkai dan Hershkowitz menerbitkan studi mereka di American Journal of Physical Anthropology.
Sementara, ahli prasejarah dari Cambridge University, Sir Paul Mellars mengatakan temuan yang diperoleh dari Israel bisa dipercaya dan penting -- apalagi penemuan fosil dari periode tersebut termasuk langka. Namun, masih prematur untuk mengatakan bahwa apa yang ditemukan di Israel adalah benar, fosil manusia.

Berdasarkan teori yang berkembang saat ini, manusia modern dan Neanderthal berasal dari satu nenek moyang yang hidup di Afrika sekitar 700.000 tahun yang lalu.

Satu kelompok turunan dari nenek moyang itu lantas bermigrasi ke Eropa dan berkembang menjadi jenis Neanderthal yang kemudian punah. Sekelompok lainnya tetap tinggal di Afrika dan berevolusi menjadi Homo sapiens -- manusia modern.

Dijelaskan Mellars, gigi seringkali menjadi indikator yang diandalkan dalam bidang arkeologi. Ia yakin tim di Israel akan menemukan tengkorak dan tulang belulang jika mereka melakukan penggalian lebih dalam

* Semua Manusia Non-Afrika Bawa Gen Neanderthal 0

Semua Manusia Non-Afrika Bawa Gen Neanderthal

Penelitian terbaru membuktikan semua manusia di luar Afrika membawa gen Neanderthal


Reka morfologi Neanderthal (zmescience.com)
 
Penelitian terbaru yang dilansir di Jurnal Biologi Molekuler dan Evolusi edisi Juli 2011 memastikan semua manusia yang bukan keturunan Afrika membawa gen Neanderthal. Penelitian ini menemukan setiap manusia yang hidup di Eropa, Asia dan Australia membawa gen Neanderthal.

Damian Labuda dari Departemen Kedokteran Universitas Montreal bersama sejumlah koleganya menemukan ini. Mereka menyatakan, beberapa kromosom X pada manusia modern sejatinya berasal dari Neanderthals, namun hanya pada orang yang bukan keturunan Afrika.

"Penemuan ini memastikan bahwa kedua populasi ini kawin-mawin," kata Labuda dalam siaran pers yang diberitakan Discovery News. Para peneliti ini meyakini, kawin-mawin ini terjadi di Timur Tengah, ketika nenek moyang manusia modern keluar dari Afrika dan menyebar ke kawasan lain.

Nenek moyang Neanderthals keluar dari Afrika sekitar 400.000 sampai 800.000 tahun lalu. Mereka berkembang selama beberapa milenia di kawasan yang kini dikenal sebagai Prancis, Spanyol, Jerman dan Rusia. Mereka lalu punah atau kemungkinan masuk dalam populasi manusia modern sekitar 30.000 tahun lalu. Neanderthal memiliki gen untuk bahasa dan kemampuan kriya, seni dan musik yang rumit, sehingga dipastikan menarik bagi manusia saat itu.

Penelitian ini dimulai satu dekade lalu, ketika Labuda dan teman-teman menemukan sepotong DNA yang disebut haplotype dalam kromosom X manusia yang terlihat berbeda. Mereka mempertanyakan asal-usulnya.

Tahun 2010, genom Neanderthal terpetakan. Peneliti lalu bisa membandingkan haplotype pada manusia dengan Neanderthal. Dan hasilnya sama pada orang-orang di seluruh dunia kecuali yang hidup di Afrika sub-Sahara.

"Ada keraguan kecil bahwa haplotype ini hadir karena kawin-mawin nenek moyang kita dengan Neanderthal," kata Nick Patterson, pakar dari MIT dan Harvard. Patterson tidak berkiprah di penelitian terakhir namun dia menyatakan penelitian ini sangat baik.

David Reich, genetikawan dari Harvard Medical School menambahkan, "Dr. Labuda dan kawan-kawan adalah yang pertama mengidentifikasi variasi genetik pada non-Afrika yang sepertinya datang dari populasi kuno," katanya.

Perpaduan manusia modern dan Neanderthal ini dianalisis Labuda menguntungkan. Mereka bisa bertahan di cuaca dan tempat yang keras, di mana Neanderthal sebelumnya telah beradaptasi. "Keragaman ini sangat penting untuk kelangsungan jangka panjang sebuah spesies," katanya.

Konsekuensi penelitian ini tentu saja berdampak pada pengelompokan Neanderthal. Jika manusia dan Neanderthal bisa kawin-mawin dan memiliki keturunan, tentu Neanderthal satu spesies Homo sapiens karena berbeda spesies dalam teori biologi tak bisa menghasilkan keturunan.

* Fosil Mirip Tikus Bisa Ungkap Evolusi Manusia 0

Fosil Mirip Tikus Bisa Ungkap Evolusi Manusia

Ini merupakan fosil tertua yang pernah ditemukan dari kelompok hewan yang disebut eutheria

Sabtu, 27 Agustus 2011, 05:33 WIB
Fosil Juramaia sinensis ungkap nenek-moyang makhluk eutheria (physorg.com)
 
Para ilmuwan di Cina menemukan fosil hewan sejenis tikus, yang dianggap bakal mengungkap sejarah evolusi mamalia, temasuk manusia. Fosil itu berasal dari makhluk yang diyakini hidup sekitar 160 juta tahun yang lalu.

Fosil dari makhluk yang dinamakan Juramaia sinensis ini merupakan fosil tertua yang pernah ditemukan dari kelompok hewan yang disebut eutheria, atau mamalia plasental. Kelompok hewan mamalia plasental ini memiliki ciri melahirkan, di antaranya seperti sapi, tikus, singa, macan, anjing, paus, dan primata.

Mamalia berbulu yang fosilnya ditemukan di provinsi Liaoning ini diperkirakan tinggal di timur laut Cina selama era Jurasik. Ini merupakan era ketika dinosaurus masih menguasai Bumi.

Dr. Zhe-Xi Luo, paleontologis dari Carnegie Museum of Natural History di Pittsburgh, Amerika Serikat, mengatakan: "Juramaia, dari 160 juta tahun lalu merupakan nenek-moyang atau 'bibi-moyang' semua mamalia plasenta yang berkembang hari ini,” ujarnya.
Zhe-Xi Luo kemudian menjelaskan, hasil analisis kerangka fosil menunjukkan hewan ini adalah makhluk tangkas dengan kemampuan memanjat yang sangat kuat.

Gambaran fosil tersebut, menurut para peneliti merupakan tonggak sejarah baru dalam evolusi mamalia yang mencapai 35 juta tahun.

Nama Juramaia sinensis memiliki arti 'Induk Jurasik dari Cina'. Fosil ini sendiri memiliki tengkorak yang tidak lengkap, sebagian kerangka, dan jaringan lunak sisa, seperti rambut. Juramaia juga memiliki gigi yang lengkap. Para ahli paleonantropologi memperkirakan fosil ini lebih dekat dengan makhluk marsupial berkantung, seperti kanguru.

"Memahami titik awal placentals merupakan isu penting dalam studi semua evolusi mamalia," kata Zhe-Xi Luo.

Waktu perubahan evolusi--saat spesies leluhur terbagi menjadi dua garis keturunan keturunan--merupakan salah satu informasi terpenting yang bisa dimiliki seorang peneliti evolusi.

Sebelum penemuan Juramaia, titik perbedaan makhluk jenis eutheria dari metatherians menimbulkan kesulitan bagi para sejarawan evolusi. Bukti dari eutheria DNA menyarankan, seharusnya muncul lebih awal dalam catatan fosil--sekitar 160 juta tahun lalu. Namun, eutheria tertua adalah Eomaia, yang hidup 125 juta tahun lalu.

Juramaia juga mengungkapkan fitur adaptif yang mungkin telah membantu para pendatang baru eutheria untuk bertahan hidup di lingkungan Jurasik. Juramaia menggunakan tungkai depan untuk memanjat dan mampu menyesuaikan dengan cara hidup Jurasik.

"Perbedaan mamalia eutheria dari marsupial akhirnya menyebabkan kelahiran plasenta dan reproduksi yang sangat penting bagi keberhasilan evolusi placentals.” ungkap Dr. Luo. "Tapi itu adalah adaptasi awal mereka untuk mengeksploitasi tempat pada pohon yang membuka jalan mereka menuju kesuksesan evolusi ini."