Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu
www.oke-mantap.blogspot.com
Diceritakan
bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja
membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan).
Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin
menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan
seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan
diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati.
Dayang Sumbi sangat
cantik dan cerdas, banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun
tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara
sesamanya. Galau hati Dayang Sumbi melihat kekacauan yang bersumber dari
dirinya. Atas permitaannya sendiri Dayang Sumbi mengasingkan diri di
sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika
sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun
kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar
ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan
torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan
suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang
Sumbi.
Dayang Sumbi pun menikahi Si Tumang dan dikaruniai bayi
laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang memiliki kekuatan
sakti seperti ayahnya. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring selalu
ditemani bermain oleh Si Tumang yang yang dia ketahui hanya sebagai
anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi
seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sakti.
Pada suatu
hari Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya Si Tumang untuk
mengejar babi betina yang bernama Wayungyang. Karena si Tumang tidak
menurut, Sangkuriang marah dan membunuh Si Tumang. Daging Si Tumang oleh
Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya.
Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah Si Tumang,
kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan
senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka dan diusirlah
Sangkuriang.
Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia.
Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah
barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi,
tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang
ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya, begitu juga sebaliknya.
Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang
Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka
di kepalanya.
Dayang Sumbi pun berusaha menjelaskan kesalahpahaman
hubungan mereka. Walau demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk
menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan
telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum.
Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur,
tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya
ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan
bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi
Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang
tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih
hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur.
Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada
di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum
dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air
Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan
bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi
Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi
yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai
unga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang
disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib
(ngahiyang).